FAST FOOD ≠ JUNK FOOD
Fast Food bukan Junk Food. Kita mengenal Fast Food berasal dari dunia belahan barat atau Negara – Negara barat. Kata Fast Food berarti makanan yang cepat penyajiannya atau makanan cepat saji. Kata – kata Fast Food lebih banyak diasumsikan oleh masyarakat luas sebagai makanan sampah atau Junk Food. Namun pertanyaanya benarkah asumsi masyarakat bahwa Fast Food sama dengan Junk Food?
Burger, hotdog, pizza dan lain sebagainya, terlanjur mendapatkan cap sebagai makanan Junk Food oleh masyarakat. Entah hal ini telah dikonfirmasikan ulang atau belum kepada pihak terkait (yang jelasnya perlu penilitian mendalam terhadap semua makanan yang ada di Indonesia jika menginginkan hasil penelitian yang obyektif), namun produk – produk makanan diatas telah diartikan makanan sampah.
Apakah betul? Ada kemungkinan YA ada juga kemungkinan TIDAK. Namun untuk lebih jelasnya, mari kita nalar apakah Fast Food merupakan juga Junk Food.
Menurut ulasan – ulasan yang sudah ada, produk – produk makanan Fast Food dapat menyebabkan Obesitas, kandungan kolesterol tinggi hingga jantung. Angka – angka penderita penyakit tersebut yang disebabkan oleh makanan – makanan Fast Food, dikatakan juga tinggi. Apakah benar? Relative. Mari kita tinjau nalar kita bersama.
- Fast Food identik dengan Obesitas para penikmatnya
Obesitas disebabkan oleh banyak factor. Namun yang paling banyak disorot adalah asupan lemak yang terlalu berlebihan. Tidak beruntungnya, produk Fast Food banyak menggunakan daging – dagingan sebagai isiannya. Juga komposisi dan cara pengolahan daging hingga menjadi produk siap makan inilah yang kemudian disangkutkan dengan label Junk Food.
Tidak semuanya benar. Beberapa merek produk Fast Food menggunakan daging tanpa lemak dan berkatagori A sebagai isianya. Ditambah dengan bahan – bahan sayur yang menyertainya dapat dikatakan bahwa sebetulnya produk – produk Fast Food mempunyai nilai keunggulan yang tinggi. Selain kaya protein, karbohidrat dan serat yang tinggi, Fast Food dapat disajikan dengan cepat. Bagi orang yang memiliki aktivitas yang tinggi, Fast Food merupakan pilihan yang tepat. Namun bagi orang yang memiliki aktivitas yang kurang begitu padat, hal ini bisa menjadi awal fase Obesitas disamping factor yang lain. Dikarenakan penumpukan zat – zat sisa yang tidak terpakai didalam tubuh.
Jika kita mencermati lebih dalam dunia kuliner di Indonesia, banyak sekali makanan – makanan asli Indonesia yang memiliki andil yang besar terhadap Obesitas. Contohnya : Soto Babat, Soto Daging ( ada potongan lemaknya atau “Gajih”), rawon, dll. Dan kalo kita boleh jujur, tingkat kolesterol jenuh-nya lebih tinggi dari makanan Fast Food. Mana yang JUNK FOOD?
- Fast Food dapat menimbulkan kolesterol tinggi
Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa tingkat kandungan kolesterol jenuh yang terdapat di produk makanan Fast Food sebenarnya masih dalam batas wajar. Bahkan diluaran masih banyak jenis makanan yang mengandung kolesterol jenuh yang tinggi. Permasalahannya adalah keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat penting tubuh manusia. Jika asupan dan zat yang dibutuhkan tidak seimbang, tentu saja tubuh menjadi kekurangan zat tertentu dan disalah satu sisi terjadi penumpukan kelebihan zat yang tidak terpakai habis oleh tubuh. Dan penumpukan – penumpukan tersebut terjadi di jaringan – jaringan tubuh yang vital. Sehingga bisa ditebak kemudian, timbullah penyakit.
Masih banyak sebetulnya anggapan – anggapan masyarakat yang beredar luas yang perlu ditanyakan kembali kebenarannya. Namun yang terpenting adalah pemberitahuan kepada masyarakat bahwa pengelompokan jenis makanan Junk Food atau bukan, tidaklah menjadi pembelajaran yang baik bagi masyarakat tentang pola hidup sehat.
Satu hal yang pasti, kita bisa belajar pola hidup sehat dengan memperhatikan sistem kerja tubuh kita sendiri. Tidak perlu jauh – jauh dan pusing – pusing menghitung kalori dan jenis makanan yang kita makan. Cukup dengan mengerti, memahami dan mengaktualkan, bagaimana sistem tubuh kita bekerja.
Mulai dengan Masuk – Proses – Keluar (3 step). Memasukkan asupan/ makanan, proses pencernaan dan penyerapan, termasuk juga proses pembakaran zat – zat inti yang telah diserap, dan Pengeluaran (pembuangan sisa – sisa makanan dan/ atau sisa pembakaran yang tidak digunakan atau terserap). Dan yang terpenting dari ketiga tahapan tersebut adalah proses penyerapan dan penggunaan zat – zat hasil penyerapan makanan. Jika digunakan dengan seimbang maka tubuh tidak akan menjadi uncontrol (sakit). Begitu juga sebaliknya, jika ternyata zat yang terserap banyak yang tersisa dan tidak banyak yang terbakar menjadi energy, maka akan ditimbun menjadi jaringan lemak. Jika jaringan lemak terus menumpuk maka akan terjadi ketidakseimbangan sistem tubuh dan akhirnya menghasilkan sistem baru diluar sistem tubuh yang seharusnya, yang kemudian disebut Penyakit.
Jika masyarakat mengerti bagaimana pola hidup sehat berawal, yang tentunya berawal dari diri kita sendiri dan bukan men-jugde makanan terutama Fast Food sebagai Junk Food, diharapkan tingkat kesehatan di negeri ini dapat meningkat. Fast Food bukanlah Junk Food. Jangan terjebak dengan asumsi yang telah tersebar luas tanpa nalar yang jelas. Masih banyak yang lebih Junk Food daripada Fast Food. Kenali jenis asupan makanan yang anda konsumsi dengan baik.
FAST FOOD = JUNK FOOD ????
RELATIF (anda sendiri yang menentukan)
June 5, 2009
Categories: tentang franchise . Tags: apa itu junk food, apaitu fast food, big burger, bisnis menggiurkan, bisnis murah, burger, burger 30 juta, burger mawut, cepat saji, diminati banyak orang, fast food, franchise, franchise bagus, franchise murah, franchise pizza, hotdog, junk food, makanan samapah, pizza, pizza 30 juta, pizza buatan anak negeri, pizza indonesia, pizza jawa, pizza kita, pizza waralaba murah, ramai, rekanan, relatif, sistem, sistem franchise, small benefit, small investment, small riskhigh gain, waralab pizza yang murah, waralaba, waralaba pizza, waralaba pizza murah, waralaba pizza yang gak mahal . Author: jalumadiun . Comments: Leave a Comment